faslilitator-masyarakat.org
Home Publikasi Jejaring Pasang Iklan F.A.Q Hubungi Kami              
Mitra Pemberdayaan Kelompok Tani Pulau Lombok | Proposal IRI: Pelatihan Kepemimpinan & Keahlian Advokasi | Pengajuan Proposal Skema Blok Dana Hivos Asia Tenggara | Ekspo Pembiayaaan Koperasi & UKM akan digelar

Pencarian | 0 Komentar

Prinsip Ekonomi dan Kemiskinan
oleh:tribio tanggal: 27.Nov.2009 1123 Klik

Oleh Hasan Rumfot

Dampak krisis moneter yang merambat pada krisis ekonomi saat ini patutlah dijadikan pelajaran yang sangat berharga dalam membangun ekonomi bangsa ke depan, dimana hampir semua pakar ekonomi kehilangan akal untuk mencari jalan keluar dari persoalan ekonomi yang tidak pernah berkesudahan, sementara kemiskinan mulai merambat keseantero dunia dan siap untuk mengoyak-oyak tatanan ekonomi dunia saat ini.

Kesemua ini sebagai akibat dari semakin kokohnya Prinsip Ekonomi," Berusaha dengan usaha sekecil-kecilnya untuk memperoleh hasil yang sebesar-besarnya (Hukum Rimba), berdiri tegak dengan angkuh dan sombong dimuka bumi, prinsip ekonomi sebetulnya bukan merupakan prinsip ekonomi tetapi lebih tepat disebut PRINSIP DAGANG, karena Prinsip Ekonomi hanya memiliki dua parameter yaitu Untung dan Rugi.

Dalam prinsip ekonomi tidak terdapat parameter keadilan dan pemerataan karena sifat phikologi prinsip itu sendiri yang membuat ego para pelakunya untuk berusaha menaklukkan lawan dengan segala cara yang penting harus memperoleh untung sebesar-besarnya, kropsi dan semua penyelewangan yang terjadi saat ini adalah bias dari Prinsip Ekonomi itu sendiri.

Okonomi dan dagang sebetulnya berbeda sangat jauh dimana parameter pembedanya adalah keadilan dan pemerataan, ekonomi sebetulnya tidak seperti apa yang adalam prinsip ekonomi itu, tetapi ekonomi lebih tetap disebut sebagai seni berdagang.

Seorang preman jalanan dalam melakukan adu josot (berkelahi), selalu berusaha menaklukkan lawannya dengan segala cara  baik menggunakan tangan kosong, senjata , dan  segala akal bulus  yang tujuan akhirnya hanya untuk menaklukan lawan yang bilaperlu menghabisi nyawa lawan, hal ini berbeda dengan bertinju walaupun keduanya sama-sama bertujuan menaklukan lawan, tetapi bertinju ada aturan yang mengikat kedua belah pihak untuk tidak melakukan hal-hal yang merugikan lawan tinju (bahkan bertinju lebih tepat dikatankan sebagai senin berkelahi).

Ilustrasi tersebut dimaksudkan untuk menyamakan dagang dengan preman dan Tinju dengan Ekonomi, kalau kita setuju dengan ini maka sebaiknya langkah peratama yang dijalankan oleh pemberdayaan adalah memerangi prinsip ekonomi, karena prinsip ekonomi membuat  yang kuat dengan semena-mena menjajah yang lemah.

0 Komentar SocialTwist Tell-a-Friend
Artikel Lainnya
Cerita & Wawancara Lainnya
Jajak Pendapat

Informasi apa yang paling anda butuhkan melalui website ini?
Info Pelatihan
Artikel
Berita
Profil
  Lihat Hasil



Tips Trik Lainnya
read more Membangun Masyarakat Cerdas
oleh: Content Manager
11.Mar.2010
read more Membuat Sendiri Sumber Nutrisi
oleh: Content Manager
26.Nov.2009
read more Peran Fasilitator Penyadaran Gender
oleh: Content Manager
25.Agu.2009
read more Layanan Komunikasi Murah bagi UKM
oleh: Content Manager
29.Jul.2009
read more Multimedia dan Web 2.0 untuk Advokasi
oleh: Content Manager
17.Jul.2009
read more Menjadi Fasilitator yang Menarik
oleh: Content Manager
19.Jun.2009
read more Menjadi Percaya Diri
oleh: Content Manager
19.Jun.2009